Kamis, 07 Mei 2026
--°C --
-- · --
Eksplore Jogja

Simbol Syukur Raja untuk Rakyat: Ratusan Warga Berebut Gunungan Garebek Syawal 2026

L
Lina · Lina
Tim Redaksi
14/04/2026, 17:49 WIB
Bagikan
Saluran WhatsApp Resmi jogja.fin.co.id
Dapatkan berita terupdate langsung di WhatsApp
Follow
Simbol Syukur Raja untuk Rakyat: Ratusan Warga Berebut Gunungan Garebek Syawal 2026

Prosesi abdi dalem Keraton Yogyakarta saat mengusung gunungan hasil bumi menuju Masjid Gedhe Kauman dalam tradisi Garebek Syawal.Foto:Pemda DIY/officialweb

fin.jogja.id – Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat kembali melaksanakan tradisi tahunan Hajad Dalem Garebek Syawal dalam rangka merayakan Idulfitri 1959 Dal/2026, Selasa 14 April 2026. Ratusan warga dari berbagai daerah memadati area Masjid Gedhe Kauman untuk menantikan pembagian uba rampe gunungan yang menjadi simbol kemakmuran sang raja.

Meskipun intensitas massa terlihat tidak sepadat tahun-tahun sebelumnya, antusiasme masyarakat tetap tinggi. Pengunjung bahkan sudah memadati pelataran masjid sejak selesai pelaksanaan salat Idulfitri guna mendapatkan posisi terbaik saat prosesi pembagian hasil bumi dimulai.

Distribusi Lima Jenis Gunungan Tradisional

Panghageng II Kawadanan Reksa Suyasa, KRT Kusumanegara, menjelaskan bahwa prosesi dimulai sejak pagi hari dengan persiapan bregada prajurit di Kompleks Kamandhungan Kidul. Gunungan yang berada di Bangsal Pancaniti kemudian dibawa melewati rute Sitihinggil Lor menuju Masjid Gedhe.

Pihak Keraton mengeluarkan lima jenis gunungan secara berurutan dalam upacara ini, yaitu:

Gunungan Kakung: Lambang maskulinitas yang diperuntukkan bagi Masjid Gedhe dan Pura Pakualaman.

Gunungan Estri/Wadon: Simbol femininitas dan kesuburan.

Gunungan Gepak, Dharat, dan Pawuhan: Melengkapi variasi hasil bumi yang dibagikan kepada masyarakat dan Abdi Dalem.

Selain distribusi di Masjid Gedhe, Keraton juga mengirimkan pareden wajik menuju Pura Pakualaman, Kompleks Kepatihan, serta Ndalem Mangkubumen sebagai bentuk pemerataan berkah hasil bumi Mataram.

Antusiasme Wisatawan dan Makna Filosofis

Advertisement

Tradisi ini tidak hanya menarik minat warga lokal, tetapi juga wisatawan mancanegara dan luar kota. Endang, seorang pemudik asal Bekasi, mengaku rutin menghadiri Garebek Syawal sebagai bagian dari agenda tahunannya di Yogyakarta. Baginya, mendapatkan uba rampe berupa ketan atau sayur-mayur dari gunungan memiliki nilai kepuasan batin tersendiri.

Kanjeng Kusumo selaku perwakilan Keraton menegaskan bahwa Garebek Syawal merupakan perwujudan rasa syukur atau mangayubagya atas kemenangan setelah sebulan berpuasa. "Gunungan merupakan perwujudan kemakmuran Keraton atau pemberian dari raja kepada rakyatnya melalui uba rampe yang berupa hasil bumi dari tanah Mataram," ungkapnya.

Prosesi ini menegaskan posisi Keraton Yogyakarta yang tetap konsisten menjaga marwah budaya sekaligus menjalin kedekatan spiritual dengan rakyat melalui pembagian sedekah hasil bumi di hari kemenangan.

Bagikan Artikel
Lina
Lina
Penulis
Penulis jogja.fin.co.id