Harga Kopi Terancam Melambung! Efek Domino Perang Iran Bikin Biaya Pupuk Meroket
Harga kopi terancam melambung tinggi dampak perang Iran-AS.Foto:Unsplash@nicolasng
jogja.fin.co.id – Industri kopi global kini berada di bawah bayang-bayang krisis baru seiring memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah tersebut memicu guncangan pada pasar energi dan logistik, yang berdampak langsung pada meroketnya biaya input pertanian, terutama pupuk.
Lembaga keuangan internasional dan analis industri memperingatkan bahwa jika gangguan ini terus berlanjut, stabilitas pasokan kopi dunia untuk musim 2026/2027 berada dalam posisi yang rentan. Berdasarkan laporan terbaru International Coffee Organization (ICO), indikator harga kopi global telah merangkak naik sebesar 2,3 persen akibat ketidakpastian di Timur Tengah.
Guncangan Pasar Pupuk dan Energi
Dunia saat ini tengah menghadapi guncangan harga pupuk besar ketiga sejak tahun 2020, menyusul pandemi COVID-19 dan perang di Ukraina. Krisis kali ini berpusat pada gangguan di Selat Hormuz, jalur krusial bagi perdagangan minyak, gas alam, dan bahan baku pupuk dunia.
Bank Dunia memproyeksikan kenaikan harga pupuk secara global akan mencapai 31 persen pada tahun 2026. Lonjakan ini didorong oleh kenaikan harga urea—pupuk nitrogen yang paling banyak digunakan—sebesar 60 persen. Selain itu, harga energi diperkirakan naik 24 persen, yang diprediksi akan menggerus pendapatan petani serta mengancam hasil panen di masa depan.
Petani Kecil Paling Terdampak
Kenaikan biaya ini menjadi beban berat bagi petani kecil yang memiliki akses terbatas terhadap kredit atau asuransi. Di Kolombia, misalnya, komponen pupuk mencakup sekitar seperlima dari total biaya produksi kopi bagi keluarga petani.
CEO Federasi Petani Kopi Kolombia (FNC), Germán Bohamón, mencatat bahwa harga impor urea telah melonjak drastis dari 414 menjadi 750 per metrik ton akibat konflik tersebut.
"Kenaikan ini berdampak langsung pada petani kopi karena pupuk mencakup 18 hingga 20 persen dari biaya produksi kopi parchment," jelas Bohamón dalam keterangannya.
Kondisi serupa juga terjadi di negara produsen lain:
Brasil: Bergantung pada impor, di mana 33 persen pasokan urea pada tahun 2025 berasal dari Timur Tengah.
Kosta Rika: Institut Kopi Kosta Rika (ICAFE) memperingatkan potensi "badai sempurna" pada panen 2026-2027 akibat tingginya harga pupuk dan risiko iklim.
Honduras: Menghadapi ketidakpastian pasokan pupuk dan kenaikan harga solar yang membebani biaya logistik.
Meskipun sektor pertanian sering kali bertindak sebagai penerima harga (price taker) yang sulit meneruskan kenaikan biaya produksi ke harga jual, dampak inflasi ini diprediksi akan tetap dirasakan oleh konsumen akhir di seluruh dunia.