Kamis, 07 Mei 2026
--°C --
-- · --
Lifestyle

Menelusuri Jejak Kopi Joss: Diplomasi Bara Arang dari Angkringan Lik Man yang Mendunia

L
Lina · Lina
Tim Redaksi
30/04/2026, 19:10 WIB
Bagikan
Saluran WhatsApp Resmi jogja.fin.co.id
Dapatkan berita terupdate langsung di WhatsApp
Follow
Menelusuri Jejak Kopi Joss: Diplomasi Bara Arang dari Angkringan Lik Man yang Mendunia

Potret ikonik penyajian Kopi Joss di Angkringan Lik Man Yogyakarta dengan bara arang panas yang baru saja dicelupkan ke dalam cangkir kopi hitam.Foto:IG@indonesiafavfood

jogja.fin.co.id – Kota Yogyakarta senantiasa menawarkan pengalaman sensorik yang mendalam melalui kekayaan kulinernya. Di antara hiruk-pikuk kawasan Stasiun Tugu, satu nama tetap bertahta sebagai ikon yang tak tergeserkan oleh zaman: Kopi Joss. Minuman ini bukan hanya seduhan kafein biasa, melainkan representasi kreativitas lokal yang lahir dari interaksi sosial yang hangat di meja angkringan.

Sejarah mencatat bahwa popularitas kopi ini bermula dari Angkringan Lik Man sekitar tahun 1968. Awal mula terciptanya racikan unik ini dipicu oleh tantangan yang dihadapi Lik Man saat melayani pelanggan setianya, terutama para pekerja asal Jawa Timur. Para pelanggan tersebut kerap meminta Kopi Kothok—minuman khas Jawa Timur yang dibuat dengan cara merebus bubuk kopi, gula, dan air secara bersamaan.

Karena keterbatasan peralatan untuk merebus kopi secara langsung, Lik Man mengambil langkah berani secara spontan. Ia memasukkan potongan bara arang kayu yang menyala panas ke dalam gelas kopi hitam seduhannya. Saat bara bertemu cairan, muncul suara mendesis "jooosss" yang kemudian menjadi identitas utama minuman tersebut hingga saat ini.

Sisi Sains dan Khasiat di Balik Bara

Meskipun terlihat ekstrem, penggunaan arang kayu tertentu—seperti kayu asem Jawa—ternyata menyimpan manfaat yang telah teruji secara fisikokimia. Bara arang yang dipanaskan berfungsi sebagai karbon aktif yang memiliki kemampuan adsorpsi luar biasa. Karbon ini bertugas mengikat racun serta polutan dalam sistem pencernaan, sehingga Kopi Joss seringkali mendapat julukan sebagai minuman detoks tradisional.

Penelitian menunjukkan bahwa penambahan arang kayu ini efektif menurunkan kadar kafein dan keasaman dalam kopi. Data mengungkapkan bahwa Kopi Joss mengandung kafein sekitar 55,13 mg/100ml, lebih rendah dibandingkan kopi hitam standar yang mencapai 68,78 mg/100ml. Hal inilah yang membuat Kopi Joss lebih ramah bagi lambung dan dipercaya mampu mencegah perut kembung atau panas dalam.

Ikon Wisata Gastronomi Yogyakarta

Advertisement

Hingga kini, para penikmat kuliner masih bisa menjumpai sajian ini di berbagai sudut kota dengan harga yang sangat merakyat, mulai dari Rp 5.000 per gelas. Keunikan proses penyajiannya tidak hanya menawarkan rasa pahit-manis dengan aroma smoky yang khas, tetapi juga memberikan pengalaman visual yang dramatis bagi wisatawan.

Meski sempat muncul perdebatan mengenai senyawa karsinogenik pada arang, studi mendalam menunjukkan bahwa arang kayu dalam Kopi Joss bertindak sebagai adsorben yang baik dengan angka serap iodium mencapai 83 persen. Dengan segala sejarah dan manfaatnya, Kopi Joss tetap berdiri kokoh sebagai wajah keramahan dan kecerdasan kuliner Yogyakarta di mata dunia.

Bagikan Artikel
Lina
Lina
Penulis
Penulis jogja.fin.co.id