Kamis, 07 Mei 2026
--°C --
-- · --
Eksplore Jogja

Kisah Inspiratif Mardijiyono: Jemaah Haji Tertua DIY Usia 103 Tahun Rela Jual Sapi Demi ke Tanah Suci

L
Lina · Lina
Tim Redaksi
01/05/2026, 15:17 WIB
Bagikan
Saluran WhatsApp Resmi jogja.fin.co.id
Dapatkan berita terupdate langsung di WhatsApp
Follow
Kisah Inspiratif Mardijiyono: Jemaah Haji Tertua DIY Usia 103 Tahun Rela Jual Sapi Demi ke Tanah Suci

Foto Mardijiyono Karto Sentono, jemaah haji tertua asal Bantul berusia 103 tahun.Foto:Tangkapan Layar IG@pemkabbantul

jogja.fin.co.id – Semangat untuk menunaikan rukun Islam kelima tidak mengenal batas usia. Hal ini dibuktikan oleh Mardijiyono Karto Sentono, seorang kakek asal Kapanewon Piyungan, Bantul, yang tercatat sebagai calon jemaah haji (calhaj) tertua di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tahun 2026. Pria yang genap berusia 103 tahun pada Desember lalu ini dijadwalkan terbang menuju Tanah Suci melalui embarkasi Yogyakarta International Airport (YIA) pada Sabtu, 2 Mei 2026.

Ditemui di kediamannya di Randusari, Sitimulyo, Mbah Mardi, sapaan akrabnya, tak henti memanjatkan syukur atas kesempatan yang ia peroleh di usia senja. Ia mengaku merasa sangat bahagia karena Tuhan memberikannya umur panjang hingga bisa melihat pintu Ka'bah secara langsung.

Mengenai kesiapannya, Mbah Mardi menekankan bahwa menjaga kebugaran fisik dan memantapkan niat adalah kunci utama sebelum memulai perjalanan panjang lintas benua tersebut.

"Persiapannya sehat, sing penting sehatke awak dan niat (yang penting sehatkan badan dan mengumpulkan niat)," ujar Mbah Mardi dengan penuh keyakinan.

Perjuangan Menabung dan Pengorbanan Menjual Ternak

Dibalik keberangkatannya, tersimpan kisah perjuangan ekonomi yang luar biasa. Anak kedua Mbah Mardi, Warjiyem, menceritakan bahwa ayahnya yang sehari-hari bekerja sebagai petani dan pemelihara sapi ini sudah memendam hasrat berhaji sejak lama. Sang ayah bahkan sempat ragu apakah usianya akan sampai untuk memenuhi panggilan tersebut.

Perjuangan nyata dimulai saat Mbah Mardi mendaftar haji pada pertengahan 2019 dengan tabungan awal Rp 10 juta. Demi memenuhi biaya setoran awal pendaftaran sebesar Rp 25 juta, ia merelakan satu ekor sapinya terjual seharga Rp 15 juta.

Meski awalnya terjadwal berangkat pada tahun 2045, melalui program khusus lansia, Mbah Mardi mendapat kepastian berangkat tahun ini. Syarat pelunasan sebesar Rp 26 juta kembali ia penuhi dengan menjual dua ekor sapi miliknya. Pengorbanan materi tersebut tidak ia sesali demi memenuhi amanah mendiang istrinya dan niat pribadinya.

Kesehatan Pulih Berkat Semangat Beribadah

Advertisement

Kondisi kesehatan Mbah Mardi pun sempat diuji saat ia mengalami cedera kaki akibat jatuh di kamar mandi pada tahun 2022. Namun, tekadnya yang kuat membuatnya pulih, bahkan sempat menjalankan ibadah umrah pada 2023. Warjiyem menyebutkan bahwa semangat ayahnya kembali bangkit secara drastis saat mendapat kabar keberangkatan haji tahun ini pasca sempat dirawat di rumah sakit.

Kini, setelah menjalani rangkaian pemeriksaan medis, Mbah Mardi dinyatakan layak secara kesehatan untuk berangkat. Pihak keluarga pun telah menyiapkan pendamping khusus selama di Tanah Suci guna memastikan sang kakek dapat beribadah dengan nyaman.

"Rasanya senang, sama Allah alhamdulillah diberi umur panjang," pungkas Mardijiyono yang kini menjadi simbol keteguhan niat bagi para jemaah haji di Yogyakarta.


Bagikan Artikel
Lina
Lina
Penulis
Penulis jogja.fin.co.id