Bernostalgia di SMAN 6, Sri Sultan HB X Cetak Sejarah Lewat Peluncuran Pendidikan Khas Kejogjaan
Sri Sultan Hamengku Buwono X saat meluncurkan Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) di SMA Negeri 6 Yogyakarta.Foto:HumasJogja
jogja.fin.co.id – Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X, secara resmi meluncurkan Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) di SMA Negeri 6 Yogyakarta, Senin 4 Mei 2026. Momentum ini menjadi sebuah gerakan kebudayaan besar yang mengintegrasikan filosofi lokal ke dalam sistem pendidikan nasional.
Kehadiran Sri Sultan di SMAN 6 juga diwarnai suasana nostalgia. Penguasa Kasultanan Yogyakarta tersebut mengenang masa-masa saat dirinya masih menimba ilmu di sekolah tersebut puluhan tahun silam.
"Saya mengenang sekolah ini 54 tahun yang lalu karena saya keluar tahun 1965. Sudah sangat berubah, dulu tidak ada yang tingkat. Mungkin yang hadir di sini belum lahir, apalagi anak-anak ini," kenang Sri Sultan dalam sambutannya.
Membangun Karakter Melalui Investasi Peradaban
Pendidikan Khas Kejogjaan merupakan buah dari komitmen panjang Pemerintah Daerah DIY sejak bergulirnya Dana Keistimewaan pada 2013. Program ini bertujuan menyuntikkan nilai-nilai luhur Yogyakarta ke dalam kurikulum di semua jenjang, mulai dari PAUD, pendidikan dasar, menengah, hingga perguruan tinggi.
Kepala Bidang Urusan Kebudayaan Paniradya Kaistimewan, Nugraha Wahyu Winarna, menekankan bahwa keistimewaan Yogyakarta tidak boleh hanya dimaknai sebatas seni pertunjukan seperti tari-tarian. Menurutnya, esensi kebudayaan harus masuk ke ruang kelas untuk menyiapkan generasi masa depan yang menghargai identitasnya.
"Pendidikan merupakan instrumen penting untuk memastikan generasi mendatang tetap melestarikan budaya kita. PKJ dilaksanakan secara berkesinambungan dari usia dini hingga pendidikan tinggi," jelas Nugraha.
Mencetak Sosok Jalma Kang Utama
Target utama dari PKJ adalah melahirkan lulusan yang memiliki kualifikasi sebagai Jalma Kang Utama. Istilah ini merujuk pada sosok manusia unggul yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki budi pekerti luhur, berkarakter, dan bertanggung jawab.
Ketua Dewan Pendidikan DIY, Sutrisna Wibawa, menyebut bahwa PKJ berfungsi sebagai benteng pertahanan bagi generasi muda Yogyakarta di tengah terjangan arus globalisasi yang masif. Tata nilai dan sopan santun khas Jogja menjadi fondasi utama dalam pembentukan identitas peserta didik.
Senada dengan hal tersebut, Kabid Perencanaan dan Pengembangan Mutu Pendidikan Dikpora DIY, Suci Rohmadi, menegaskan bahwa PKJ akan memperkuat atmosfer pendidikan yang santun dan arif di seluruh wilayah DIY.
Model Implementasi: Budaya Ngajeni
Beberapa sekolah di Yogyakarta sebenarnya telah memulai langkah awal sebagai model sekolah PKJ, salah satunya SD Negeri Kasihan di Kabupaten Bantul. Di sekolah ini, pilar "Budaya Ngajeni" telah menjadi rutinitas harian siswa.
Kepala Sekolah SDN Kasihan, Harsiana Wardani, memaparkan bahwa siswanya telah terbiasa mempraktikkan sikap ngapurancang, menggunakan sapaan nuwun sewu dan matur nuwun, hingga penggunaan bahasa Jawa dan busana tradisional gagrak Ngayogyakarta setiap hari Kamis.
Dengan peluncuran serentak pada 4 Mei 2026 ini, seluruh ekosistem pendidikan di DIY diharapkan memiliki standar yang sama dalam menginternalisasi nilai-nilai Kejogjaan. Langkah ini menjadi strategi DIY dalam menciptakan SDM yang berdaya saing global tanpa kehilangan akar budaya lokalnya.