Eksplore Jogja . 30/04/2026, 13:22 WIB

Kisah Haru Mbah Kibar: Berpacu dengan Waktu Selamatkan Tanah Warisan Lewat Goresan Kuas

Penulis : Lina  |  Editor : Lina

fin.jogja.co.id – Di usia senjanya yang menginjak 76 tahun, Suhardiyono Kibar tidak sedang menikmati masa pensiun yang tenang. Perupa asal Yogyakarta ini justru tengah berjibaku dengan tenggat waktu perbankan untuk melunasi utang sebesar Rp500 juta. Alih-alih meminta belas kasihan atau donasi terbuka, pria yang akrab disapa Mbah Kibar ini memilih menjual hasil karyanya berupa lukisan.

Kabar ini menjadi sorotan setelah tanah warisan keluarganya terancam disita bank akibat pinjaman yang sebenarnya bukan ia gunakan, melainkan oleh kerabatnya yang menggunakan namanya. Meski begitu, Kibar memilih bertanggung jawab penuh atas beban tersebut.

"Saya profesional saja. Saya nggak perlu didonasi. Saya masih mampu untuk melukis," tegas Kibar saat ditemui di rumah joglo barunya di kawasan Ngemplak, Sleman, Selasa 14 April 2026.

Kecintaan Kibar pada dunia seni rupa bukan muncul kemarin sore. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, ia sudah menunjukkan dedikasi tinggi pada hobi menggambar hingga sering meninggalkan pelajaran lain. Ia bahkan sempat mencoba berbagai aliran seni, mulai dari patung hingga abstrak, sebelum akhirnya memantapkan diri pada aliran realis karena dinilai lebih mudah dinikmati masyarakat luas.

"Dari SD saya sudah senang menggambar. Sampai pelajaran olahraga pun saya tinggal karena lebih senang menggambar," kenangnya.

Namun, perjalanan hidupnya tidak selalu mulus. Sebelum sepenuhnya menjadi pelukis, ia pernah menjajal profesi sebagai guru, namun ia hanya bertahan satu bulan karena hasratnya yang kuat hanya untuk melukis.

Titik Balik dari Keterpurukan

Cobaan bagi Kibar datang secara bertubi-tubi. Selain jeratan utang ratusan juta rupiah, rumah pribadinya di Banguntapan juga mengalami kerusakan parah hingga ambruk. Di tengah himpitan ekonomi dan kondisi rumah yang tidak layak, ia sempat jatuh sakit akibat serangan vertigo hebat.

Kondisi kritis ini membawanya berkomunikasi dengan Prof. Ali Agus, yang kemudian menawarkan rumah joglo di Ngemplak sebagai tempat tinggal sekaligus ruang kerja baru sejak dua bulan lalu. Kini, ia kembali bersemangat menghasilkan karya, mulai dari potret Soekarno, Pangeran Diponegoro, hingga tokoh masa kini seperti Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.

Berpacu dengan Tenggat Waktu Bank

Meski kini sudah mendapatkan tempat berkarya yang nyaman, waktu tetap menjadi musuh utamanya. Tim pendamping Kibar, Atsir Mahatma Adam, menjelaskan bahwa pihak bank memberikan tenggat waktu pelunasan hingga Juni 2026 mendatang.

"Kami diberi waktu 4 bulan (sejak Februari) untuk membayar hutangnya. Awalnya nilainya Rp536 juta, sekarang mungkin sudah sekitar Rp556 juta karena bunga," ungkap Adam.

Upaya tim untuk memasarkan lukisan Kibar mulai menampakkan hasil setelah kisah perjuangannya viral di media sosial. Beberapa kolektor mulai menunjukkan minat serius. Lukisan potret Gibran Rakabuming Raka kabarnya telah ditawar hingga Rp37 juta, sementara lukisan Soekarno menyentuh angka Rp42 juta.

Bagi Kibar, setiap goresan kuas saat ini adalah napas untuk menyelamatkan kehormatan dan aset keluarganya. Ia yakin bahwa martabat seorang seniman terletak pada kemampuannya menyelesaikan persoalan hidup melalui mahakarya yang dihasilkan.

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com