News . 01/05/2026, 22:26 WIB

Pertamina Tahan Harga BBM per 1 Mei 2026, Cek Daftar Lengkap Pertalite Hingga Dexlite

Penulis : Lina  |  Editor : Lina

jogja.fin.co.id – PT Pertamina (Persero) secara resmi mengumumkan kebijakan harga bahan bakar minyak (BBM) yang berlaku mulai 1 Mei 2026. Meski dibayangi oleh tren kenaikan harga minyak mentah global dan fluktuasi nilai tukar Rupiah, perusahaan pelat merah ini memutuskan untuk tidak melakukan perubahan harga pada seluruh jenis produknya.

Keputusan ini berarti harga BBM nonsubsidi masih mengacu pada penyesuaian terakhir yang dilakukan pada pertengahan April lalu. Langkah ini diambil pemerintah guna menjaga stabilitas ekonomi nasional dan melindungi daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian pasar energi dunia.

Konsistensi Harga di Tengah Gejolak Minyak Dunia

Berdasarkan data resmi dari laman MyPertamina, harga Pertamax Turbo per 1 Mei 2026 tetap tertahan pada angka Rp19.400 per liter. Untuk produk diesel nonsubsidi, Dexlite masih dibanderol Rp23.600 per liter, sementara Pertamina Dex bertahan di level Rp23.900 per liter.

Pertamina juga tidak merubah harga Pertamax yang menjadi andalan banyak pengguna kendaraan pribadi, yakni tetap Rp12.300 per liter. Kebijakan serupa berlaku untuk sektor subsidi, di mana Pertalite masih dipatok Rp10.000 per liter dan Solar subsidi di harga Rp6.800 per liter.

Alasan di Balik Keputusan "Harga Tetap"

Jika merujuk pada regulasi Keputusan Menteri ESDM Nomor 19 K/10/MEM/2019, formula harga BBM eceran sangat bergantung pada rata-rata harga publikasi Mean of Platts Singapore (MOPS) dan kurs Rupiah. Saat ini, variabel-variabel tersebut sebenarnya memberikan tekanan besar untuk kenaikan harga.

Harga minyak mentah jenis Brent pada periode Maret-April 2026 terpantau melonjak hingga rata-rata 100,69 USD per barel, naik signifikan dari periode sebelumnya yang hanya sebesar 85,20 USD per barel. Begitu pula dengan jenis WTI yang melesat ke angka 94,19 USD per barel.

Kondisi ini secara matematis meningkatkan biaya impor minyak mentah Indonesia. Namun, pemerintah memilih jalur intervensi kebijakan untuk meredam dampak sosial dan politik

Fokus pada Stabilitas Ekonomi Makro

Penahanan harga BBM nonsubsidi di tengah kenaikan biaya produksi menunjukkan bahwa pemerintah memprioritaskan pengendalian inflasi. Jika harga BBM naik saat ini, biaya logistik dan harga kebutuhan pokok berpotensi ikut terkerek naik, yang dapat memicu ketidakstabilan ekonomi di tingkat akar rumput.

Stabilitas daya beli masyarakat menjadi kunci utama bagi pemerintah dalam mengambil keputusan ini, meski beban fiskal atau kompensasi mungkin akan sedikit meningkat. Masyarakat pun diimbau untuk tetap bijak dalam menggunakan energi dan memanfaatkan layanan transaksi digital untuk memastikan distribusi BBM tetap tepat sasaran.

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com