Lifestyle . 04/05/2026, 23:07 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
jogja.fin.co.id – Di balik aromanya yang memikat dan kemampuannya mengusir kantuk, kopi menyimpan sejarah panjang yang sarat akan pertentangan budaya dan agama. Jauh sebelum gerai kopi modern menjamur di sudut kota, minuman berwarna hitam pekat ini pernah memicu kontroversi besar di daratan Eropa hingga mendapat label sebagai "Minuman Setan" (Satan’s Drink).
Penolakan tersebut muncul pada abad ke-17 ketika kopi mulai masuk ke Eropa dari wilayah Timur Tengah. Para pendeta saat itu melarang keras umat Kristen mengonsumsinya karena berasal dari negeri "musuh". Namun, sejarah mencatat momen penting saat Paus Clement VIII justru jatuh hati setelah mencicipinya. Ia kemudian melakukan "pembaptisan" simbolis terhadap kopi agar minuman tersebut layak dikonsumsi masyarakat Eropa.
Meski Brasil kini dikenal sebagai produsen terbesar, akar sejarah kopi tertanam kuat di tanah Afrika dan Arab. Teori paling populer menceritakan seorang penggembala di Ethiopia yang memperhatikan kambing-kambingnya menjadi sangat aktif setelah memakan biji beri liar.
Namun, dalam peradaban Islam, penggunaan kopi pertama kali didokumentasikan di Yaman. Para ahli ibadah dari kalangan kaum sufi memanfaatkan minuman yang mereka sebut qahwah ini untuk tetap terjaga saat melakukan zikir dan ibadah malam hingga fajar menyingsing. Dari Yaman, budaya ngopi meluas ke Mekkah hingga menyeberang ke Turki Utsmani.
Masyarakat Turki Utsmani membawa kecintaan terhadap kopi ke level yang lebih tinggi. Pada tahun 1475, kedai kopi pertama di dunia bernama Kiva Han resmi dibuka di Konstantinopel (Istanbul). Di sana, kopi bukan sekadar minuman, melainkan kewajiban sosial. Begitu sakralnya nilai kopi, hingga para ahli fiqih masa itu menetapkan bahwa seorang istri berhak menggugat cerai suaminya jika kebutuhan kopinya di rumah tidak terpenuhi.
Budaya ini kemudian merambah Eropa saat pasukan Utsmani meninggalkan pasokan biji kopi dalam ekspansi mereka ke Austria. Dari situlah, kedai kopi pertama di Eropa berdiri pada tahun 1529, yang memperkenalkan inovasi mencampur kopi dengan krim dan gula agar lebih diterima lidah masyarakat barat.
Kedai kopi bertransformasi menjadi pusat intelektual. Di Inggris, tempat-tempat ini dijuluki Penny Universities karena dengan harga satu penny, pengunjung bisa menikmati kopi sekaligus mendengarkan diskusi tingkat tinggi para pebisnis dan pemikir.
Sejarah juga mencatat lahirnya istilah coffee break yang erat kaitannya dengan Revolusi Industri di Inggris. Para buruh yang bekerja dengan jam kerja panjang namun upah rendah memilih meminum kopi sebagai pengganti makan siang karena harganya yang terjangkau namun mampu memberikan energi tambahan untuk lanjut bekerja.
"Kedai kopi menjadi ruang lahirnya ide-ide besar dan perlawanan intelektual," tulis catatan sejarah mengenai berkumpulnya tokoh-tokoh besar seperti Syaikh Jamaluddin Al-Afghani di Mesir yang sering berdiskusi hangat di kedai kopi.
Hingga saat ini, setiap kali kita menikmati secangkir kopi di pagi atau malam hari, kita sebenarnya tengah mencecap warisan peradaban Arab-Islam yang telah mendunia, setara dengan identitas kuliner besar lainnya seperti pizza dari Italia atau sushi dari Jepang.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media