News . 04/05/2026, 16:28 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
jogja.fin.co.id – Kasus keracunan massal kembali mengguncang wilayah Kabupaten Sleman. Sebanyak 28 warga Dusun Toragan, Desa Tlogoadi, Kecamatan Mlati, dilaporkan mengalami gejala kesehatan serius usai menyantap hidangan dalam sebuah acara pamitan haji yang berlangsung pada Minggu 3 Mei 2026.
Hingga Siang ini siang, Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman terus memantau kondisi para korban yang tersebar di tiga fasilitas kesehatan berbeda. Meski puluhan warga mengalami gejala seperti mual, diare, hingga demam, otoritas kesehatan memastikan tidak ada korban yang harus menjalani rawat inap.
Khamidah Yuliati, Kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinkes Sleman, mengungkapkan bahwa gejala keracunan tidak langsung muncul seketika. "Data yang masuk hingga pukul 14.20 WIB menunjukkan ada 28 orang bergejala. Seluruhnya menjalani rawat jalan setelah mendapatkan penanganan medis," jelas Yuliati kepada awak media.
Acara pamitan haji tersebut sebenarnya dihadiri oleh 130 tamu undangan. Panitia menyajikan konsumsi berupa makanan ringan (snack) dan nasi kotak. Gejala mulai dirasakan warga beberapa jam setelah menyantap hidangan, dengan keluhan bervariasi mulai dari sakit perut, mulas, pusing, hingga panas dingin.
Dalam investigasi lapangan, Dinkes Sleman menyoroti menu nasi kotak yang berisi nasi, ayam bakar, sambal goreng krecek jeroan, telur rebus, pisang, dan lalapan. Berdasarkan laporan warga dan pengecekan sisa konsumsi, menu sambal krecek menunjukkan kondisi yang tidak normal.
"Kami menemukan kondisi makanan, khususnya krecek, sudah mulur dan berasa kecut pada 256 boks yang tersedia," tambah Yuliati.
Tim medis telah mengambil sampel sisa makanan berupa ayam bakar, sambal goreng krecek, serta sampel feses dari korban untuk dilakukan uji laboratorium secara mendalam. Langkah ini penting untuk memastikan jenis bakteri atau zat kontaminan yang memicu keracunan massal tersebut.
Kepedihan mendalam dirasakan oleh keluarga penyelenggara acara. Nayoko Bramantyo, perwakilan tuan rumah, mengaku bahwa keluarganya memesan 250 porsi makanan untuk acara yang dimulai pukul 08.00 pagi tersebut. Makanan pesanan itu tiba di lokasi sekitar pukul 06.30 WIB.
Yoko, sapaan akrabnya, menceritakan bahwa dirinya dan anggota keluarga lain turut mengalami gejala diare hebat pada malam harinya. "Sekitar pukul setengah sebelas malam saya mulai terasa. Di rumah ada tiga orang yang menjadi korban, termasuk saya dan adik saya," ungkap Yoko.
Ia membenarkan adanya keganjilan pada rasa sambal krecek saat dikonsumsi. Meskipun merasa kecewa, pihak keluarga kini menyerahkan sepenuhnya proses penyelidikan kepada instansi terkait sembari fokus pada pemulihan kesehatan para tetangga dan kerabat yang terdampak.
Saat ini, situasi di lokasi kejadian dilaporkan sudah mulai kondusif, namun kewaspadaan terhadap kualitas konsumsi massal menjadi sorotan utama bagi masyarakat di wilayah tersebut.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media